
by:kahfi yudho
Namun tahun ini, ia mendarat di Jakarta, di negeri yang sedang dirundung bencana. Sambutan masyarakat tidak lagi seheboh dulu, yang menyambut kharismanya bak bintang musik rock.
Meski demikian, kebanggaan Indonesia akan 'Barry' Obama, anak jenius dari Indonesianis bernama Stanley Ann Durham, tidaklah berubah. Saya yakin akan selalu ada tempat di negeri ini untuk ikon global luar biasa ini.
Di masa datang, karir pasca Gedung Putih-nya pasti akan membawanya lebih dekat lagi pada Jakarta yang begitu dicintainya. Suatu saat nanti ia bisa saja menjadi juru bicara dan 'duta' yang sangat terkenal dan persuasif bagi Indonesia.
Tapi itu nanti, di masa depan. Kita harus kembali dulu ke masa kini.
Salah satu indikasi akan kharisma dan daya tarik Obama adalah kehadiran mantan Presiden Megawati Soekarnoputri - yang notabene hubungannya kurang baik dengan rivalnya, SBY - di Istana untuk jamuan kenegaraan. Suatu fenomena sangat jarang terjadi. Dan meski Obama hanya berada di Tanah Air kurang dari 24 jam, kehadirannya merupakan catatan penting bagi reputasi Indonesia yang semakin mencuat di kancah global.
Waktu akan selalu berubah. Amerika datang dengan bermacam janji yang baik - yang terangkum dalam Comprehensive Pact - berdiplomasi dan mempererat hubungan dengan Indonesia sebagai negara vital dan strategis.
Dalam situasi normal, inisiatif AS ini – dana bagi lingkungan hidup, pendidikan, dan jaminan perdagangan semakin kuat – seharusnya mendapatkan antusiasme besar. Namun, saat ini situasi tidak normal.
Indonesia dan Asia Tenggara tidak lagi menjadi warga kelas dua dalam kancah diplomasi dunia. Kawasan padat penduduk ini, yang mempunyai jalur perairan laut paling penting dan kaya sumber daya alam, merupakan bagian dari The Great Game yang baru. China, AS. Dan pada waktunya nanti India, mengincar posisi utama, dan Indonesia akan menjadi ‘berkah’ paling diidamkan.
Selain itu, kenyataan geografi, sejarah dan kebudayaan Indonesia tidak bisa diacuhkan. Para pedagang dari Gujarat dan Kalabar, biarawan Budha dari India, laksamana dari China dan pedagang Foochow telah menjadi penghuni Asia Tenggara selama berabad-abad.
Strategi dan manuver yang dijalankan sangat intens dan kuat. Kita lihat saja apakah AS yang 'imperial’ itu memiliki keberanian memiliki sumber daya untuk membangun hubungan seperti ini? Walau begitu, komunitas bisnis di Jakarta masih bersikap biasa-biasa saja.
Bukankah ini hal yang mengejutkan? Sehari sebelumnya, Wu Bangguo, Kepala Kongres Rakyat Nasional China, dan figur kedua paling senior di Partai Komunis China, baru mengakhiri kunjungan empat hari di Indonesia, yang menjanjikan kesepakatan dagang dan ekonomi US$6,6 miliar.
Hubungan perdagangan China-Indonesia telah tumbuh US$23,4 miliar dalam sembilan bulan pertama pada 2010, sementara nilai perdagangan AS-Indonesia tumbuh sekitar US$15,4 miliar. Perlu diingat bahwa pada 2007, kesepakatan dagang AS dengan Indonesia jauh melampaui China.
Pengalaman China membangun infrastruktur telah membuat kagum masyarakat Indonesia. Sementara prospek perkembangan serupa di nusantara masih kecil kemungkinannya – demokrasi di Indonesia pasti akan memperlambat proses ini – tidak diragukan lagi bahwa para pebisnis China akan memainkan peranan penting dalam membangun dan memperbaiki jalur transportasi dan kapasitas pembangkit listrik di Indonesia.
Indonesia di tahun 2010 dimotori oleh perdagangan dan bisnis. Suka atau tidak suka, kita hidup dalam Age of Money, dan dari sudut pandang ini, kunjungan Obama dapat dikatakan tidak berhasil.
Kunjungan ke Istiqlal dan Universitas Indonesia layak diacungi jempol. Kunjungan ini menunjukkan rasa hormat bagi tradisi pluralis di Indonesia. Tapi, Obama mungkin seharusnya lebih menerapkan pendekatan bisnis yang dilakukannya di India, dan menuai sukses.
Sangat disayangkan, tampaknya Washington masih memandang Jakarta dari kerangka keamanan dan Islam; kerangka yang sudah ketinggalan zaman . Tidak seperti para pemimpin China saat berkunjung, Obama tidak memperhatikan potensi komersil yang sangat nyata dari Indonesia.
Tentu saja, ini tidak sama dengan sejumlah perusahaan milik AS, yang sebagian besar melihat Indonesia sebagai platform pertumbuhan sangat penting. Washington seharusnya lebih memperhatikan keuntungan finansial yang bisa didapatkan di Indonesia.
Meski demikian, sulit bagi kita tidak terbawa sikap positif dari Obama. Ia tetap menjadi sosok pemimpin yang membawa perubahan – walaupun dengan berat memikul tugas memimpin AS yang sudah terpuruk akibat kebijakan ekonomi dan kebijakan luar negeri George W Bush yang semrawut.
Apapun yang terjadi, hubungan Barack Obama-Indonesia menjadi semakin penting seiring merosotnya reputasi negaranya sendiri, yang menjadi korban dari tekanan sejarah yang tidak bisa dihentikan. Seperti yang saya bilang: waktu akan selalu berubah.
No comments:
Post a Comment